RSS

Monthly Archives: February 2017

KONFERENSI PERS – BNN KOTA JAKARTA TIMUR AMANKAN 6.943,23 GRAM SABU KRISTAL


Jakarta – 28 Februari 2017 BNN Kota Jakarta Timur menggelar Konferensi Pers di Kantor Walikota Kota Administrasi Jakarta Timur Gedung B2 Lt.4. Kepala BNNK Jakarta Timur Mohammad Nasrun M SH., MH didampingi Kasi Berantas Kompol Rudiyono A.Md dan Subbag Umum Henry Pahala Marbun, SE., MM memberikan informasi yang sejelas jelasnya kepada para Media Elektonik maupun media cetak tentang hasil tangkapan tersebut. 
Berikut kronologisnya :

Seorang laki-laki dengan inisial HS (pria/WNI/33thn) berhasil diamankanoleh BNN Kota Jakarta Timur pada dini hari Jum’at (24/2) dari salah satu Rumah Kos di Jalan Kayu Manis Timur, Kelurahan Utan Kayu Selatan, Kecamatan Matraman Jakarta Timur karena pada saat dilakukan penggerebegan dan penggeledahan, petugas menemukan tas barang bukti yg diduga berisi Narkoba.  

Selanjutnya diketahui bahwa barang bukti Narkoba tersebut adalah jenissabu kristal yang dibungkus dengan plastik bening yang di masukan ke dalam sebuah travel bag (koper) dengan berat bruto 6,943 Kg. Dalam penggeledahan itu petugas juga menemukan sabu yang dibungkus dengan plastik bening terbungkus kantong plastik hitam serta sejumlah sabu dalam paketan kecil didalam plastik klip kecil siap edar dan sisa pakai. Selain itu juga di amankan beberapa bungkus plastik klip bening dengan berbagai ukuran, gulungan alumunium foil, timbangan digital, sendok kecil untuk mengambil & memisahkan sabu, dan alat hisap.

Tersangka HS mengaku bahwa barang bukti sabu yang diamankan petugas adalah milik seseorang berinisil WY yang mengendalikan HS untuk memasarkan sabu tersebut. Sabu diambil oleh HS atas arahan WY dari sebuah tempat di wilayah Kabupaten Bogor.

Atas arahan dari WY, HS dimintakan untuk menyimpannya terlebih dahulu dan akan memasarkanya sesuai dengan perintah WY. Kemudian HS membawa Narkoba menuju Jakarta seorang diri dan menyimpannya di kamar kos di Jalan Kayu Manis Timur, Kelurahan Utan Kayu, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur.

Dari hasil interogasi dan pemeriksaan awal diketahui bahwa tersangka HS dijanjikan akan diberikan sejumlah uang dari hasil penjualan barang haram tersebut oleh WY. HS mendapat kepercayaan untuk menjualkan sabu dan akan mendapatkan keuntungan lebih dari hasil penjualan jika dapat menjualnya dari hari harga yang telah di tentukan oleh WY.  Sementara pelaku merupakan pelaksana lapangan di jalur barang (narkotika) karena pelaku hanya menyimpan, menimbang / menyisihkan dan mendistribusikan kepada orang lain sesuai petunjuk dari WY. Tim Pemberantasan (penyidik) masih mendalami / menyelidiki siapa WY tersebut.

Saat ini tersangka dalam proses penyidikan lebih lanjut oleh BNN Kota Jakarta Timur yang diduga melakukan tindak pidana penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika. Atas perbuatannya tersangka dikenakan pasal 114 ayat (2), Pasal 112 ayat (2), Pasal 127 ayat (1) huruf a Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Dari pengamanan dan penyitaan barang bukti sabu tersebut BNN Kota Jakarta Timur dapat menyelamatkan ± 27.773 orang anak bangsa dari pengaruh penggunaan narkoba di Indonesia. #stopnarkoba

HUMAS BNN KOTA JAKARTA TIMUR

B/PR-001/II/2017/HUMAS BNNK-JT

Call Center: 021-4800974

Email : bnnk.jakartatimur@gmail.com

https://m.youtube.com/watch?v=EvfBDTRlg60

timur.jakarta.go.id/v11/?p=berita&id=2279

 
Leave a comment

Posted by on February 28, 2017 in Berita

 

​Diseminasi Informasi P4GN dalam Rangka Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) Kota Administrasi Jakarta Timur


Jakarta – Minggu, 26 Februari 2017 Pukul 06.00 WIB s/d pkl 11.00 WIB
Walikota Kota Administrasi Jakarta Timur mengajak BNN Kota Jakarta Timur melakukan kampanye narkoba dalam acara Hari Bebas Kendaraan Bermotor yang rutin diselenggarakan di Minggu ke empat tiap bulan. Pada kesempatan kali ini, BNN Kota Jakarta Timur menggunakan mobil dayamas sebagai stand replika narkoba.

Penyuluh Narkoba ahli pertama BNN Kota Jakarta Timur menjadi pemandu replika narkoba terkait penyebarluasan informasi perihal jenis-jenis narkoba dan bahaya narkoba. Selain dengan replika narkoba, BNN Kota Jakarta Timur memberikan goodie bag berisi gantungan kunci, stiker, dan buku saku kepada pengunjung stand BNN Kota Jakarta Timur.

Sebagian besar pengunjung sangat antusias mencari informasi perihal bahaya narkoba terutama para orangtua yang sedang bersantai bersama dengan anak-anak mereka yang notabene merupakan pelajar SD Jakarta Timur.

Selain itu, warga binaan deputi pemberdayaan masyarakat BNN RI, warga Kampung Pertanian Jakarta Timur, mengisi stand BNN Kota Jakarta Timur dengan menjual hasil kerajinan tangan berupa tas, dompet anyam, bros, dan kalung.

Kegiatan HBKB diawali dengan senam pagi bersama seluruh pengunjung HBKB untuk mengajak pola hidup sehat, dan dimeriahkan oleh pagelaran kesenian tari dan musik dari sekolah wilayah Jakarta Timur.

#Stopnarkoba #Ke2janyata #TOLERANSI

#Humas BNNK Jaktim

Foto lainnya :

BU/HUMAS/009/II/2017/BNNK-Jaktim

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2017 in Berita

 

​BANDAR NARKOBA HARUS DIHUKUM BERAT


B/ART-3/II/2017/HUMAS
Jakarta, 24 Februari 2017

Pemberitaan tentang lolosnya seorang bandar narkoba bernama Abdullah alias Dullah (37) dari hukuman mati melalui kasasi, pada Oktober 2016 lalu telah menyita perhatian banyak pihak. Banyak respon muncul seperti heran, hingga kecewa mengapa seorang bandar narkoba yang terlibat dengan pengendalian peredaran barang haram seberat 78,1 kg sabu bisa lolos dari hukuman paling berat. 

Seperti dihimpun dari sejumlah media, Abdullah ini lolos dari vonis mati setelah mengajukan kasasi dan hasilnya, ia diketok palu menjadi 20 tahun penjara oleh Mahkamah Agung. Padahal, ia divonis mati oleh Pengadilan Negeri Banda Aceh, dan dikuatkan di Pengadilan Tinggi. 

Keputusan mengubah hukuman mati menjadi 20 penjara ini dinilai bisa membuat upaya  penegakan hukum terlihat menjadi lebih tumpul. Karena jelas sekali kejahatan narkotika merupakan kejahatan kemanusiaan. Akibat ulah para pelaku kejahatan seperti bandar dan juga pengedar, banyak generasi bangsa kehilangan masa lalu, maka kini dan masa depannya. Namun jika hukumannya justru semakin ringan, ini akan menjadi pertanyaan besar, di mana keadilan. 

Semua pihak harus kembali ingat, bahwa narkotika telah banyak menguras air mata jutaan keluarga di negeri ini. Di antara anggota keluarga mereka yang jadi korban narkotika, ada yang harus kehilangan kesehatan jiwa maupun raganya, hingga tak sedikit pula yang akhirnya meninggal dunia. 

Terlibat Peredaran Sabu Jumlah Besar

Masyarakat pasti belum lupa dengan penangkapan pada tahun 2015 lalu di daerah Dusun Nabok, Desa Lue Bu Jalan Kecamatan Pereulak Kabupaten Aceh Timur-Aceh. Saat itu, tepatnya pada tanggal 15 Februari 2015, Abdullah ditangkap bersama rekan-rekannya satu jaringan yaitu Usman, Hasan Basri, dan juga Hamdani Razali. Dari jaringan ini, sabu seberat 78106,6 gram. Dari sejumlah keterangan tersangkan lainnya, diketahui bahwa Abdullah merupakan penyokong dana untuk pembelian narkoba yang berasal dari negeri Jiran Malaysia. 

Dikutip dari hasil putusan MA, bahwa dari keterangan Usman alias Raoh, ia mengaku bertemu dengan Abdullah di daerah Cot Geulumpang Peurlak Kota Aceh Timur pada 14 Februari 2015 dan diberikan uang sebesar Rp 60 juta untuk mengambil sabu dari Hasan Basri yang dibeli oleh Jenggot (DPO) di Malaysia. Namun sabu itu belum sempat diserahkan kepada Abdullah karena Hasan Basri sudah ditangkap anggota Badan Narkotika Nasional (BNN). Usman mengaku untuk mengambil narkotika sudah enam kali dengan besaran upay mulai dari Rp 20 juta hingga Rp 60 juta. 

Dari secuil data ini, pelaku merupakan pemegang dana yang cukup besar untuk belanja barang haram di luar negeri dan ditebar kembali di dalam negeri untuk meracuni anak bangsa sendiri. 

Pernah Kabur Dari Tahanan

Atas perbuatannya, Dullah mulai ditahan penyidik BNN di RUTAN terhitung dari 19 Februari hingga 10 Maret 2015. Lalu terjadi perpanjangan penahanan penuntut umum dari tanggal 6 Maret 2015 sampai dengan 19 April 2015. 

Namun, pada tanggal 31 Maret 2015, Abdullah bersama 9 tahanan BNN lainnya sempat  melarikan diri. Abdullah sendiri kembali ditangkap pada 5 April 2015. 

Ditolak Banding Berkali-Kali

Setelah melalui proses persidangan, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Banda Aceh menyatakan amar putusannya pada 21 Desember 2015, dengan nomor putusan Nomor 248/Pid.Sus/2015/PN Bna yaitu menyatakan  keempat terdakwa, yang mana salah satunya adalah Abdullah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana narkotika yang beratnya melebihi 5 gram (78,1 kg), sehingga dinyatakan melanggar Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan vonis hukuman mati. Upaya hukum yang mereka lakukan dengan cara banding ke Pengadilan Tinggi tidak membuahkan hasil bahkan ditolak berkali-kali. 

Tegakkan Supremasi Hukum

Dari kasus ini, tentu semua pihak harus kembali menjunjung semangat penegakkan hukum yang tajam terutama pada para pelaku kejahatan narkotika. Seperti telah diketahui bersama bahwa kejahatan narkotika adalah kejahatan berat. Para bandar atau pengedar telah meracuni anak bangsa sehingga potensi dan daya saing, maupun produktivitasnya menjadi turun. Jika bibit unggul generasi muda saat ini banyak tergerus, lantas siapa yang nantinya akan menjadi generasi penerus. 

Negara tak boleh kalah melawan sindikat narkotika. Sekalipun mereka memiliki sumber dana dan kekuatan yang besar, negara harus bisa memberantas habis jaringan sindikat narkotika yang mengancam anak bangsa. Penerapan hukuman mati bagi mereka yang berani mengusik NKRI dengan cara menyulai narkotika, masih perlu dilakukan, karena jelas mereka harus ditindak dengan cara yang paling tegas. 

Tanpa ada maksud untuk intervensi dalam sistem peradilan pidana, terutama terhadap kewenangan pengadilan dan mahkamah, diharapkan mata hati penegak hukum tetap terbuka terhadap korban-korban penyalahgunaaan narkotika yang terus berjatuhan. Disamping itu juga efek penegakkan hukum diharapkan dapat memberikan perlindungan kepada generasi penerus. 

#StopNarkoba

TTD 

Humas BNN

 
Leave a comment

Posted by on February 24, 2017 in Berita

 

​PRESS RELEASE


BNN BERHASIL UNGKAP TUDUHAN PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA BUPATI BENGKULU SELATAN

Jakarta, 23 Februari 2017

Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil mengungkap kasus pembelian dan penguasaan tanpa hak Narkotika jenis sabu dan ekstasi dengan tujuan untuk melakukan rekayasa penyalahgunaan Narkotika yang dituduhkan kepada Bupati Bengkulu Selatan, Dirwan Mahmud, pada tanggal 10 Mei 2016, di ruang kerja Bupati Bengkulu Selatan.  

Dari pengungkapan kasus ini, BNN dan BNNP Bengkulu mengamankan 7 orang tersangka, salah satunya diduga adalah RE, (60 Thn / Mantan Bupati Bengkulu Selatan. RE diamankan bersama 6 tersangka lainnya berinisial HY (49 Thn / Mantan Kabid Brantas BNNP Bengkulu), MU (39 Thn / Wartawan salah satu media massa Bengkulu), SA (40 Thn / Anggota Polri BKO BNNP Bengkulu), DA (55 Thn / PNS BNNP Bengkulu), KD (38 Thn / PNS BNNP Bengkulu) dan RU (53 Thn / Mantan Sekretaris Daerah Bupati Bengkulu Selatan yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Badan Keuangan Daerah Kab. Mukomuko, Bengkulu).

Bekerja sama dengan Propam Mabes Polri dan Direktorat Narkoba Bareskrim Polri, BNN bersama BNNP Bengkulu melakukan gelar perkara, di kantor pusat BNN, Cawang, Jakarta Timur, Senin, (20/2), dengan hasil HY dinyatakan cukup bukti untuk di jadikan Tersangka.

Hasil pemeriksaan para saksi dan tersangka, diperoleh bukti bahwa RE meminta bantuan kepada HY melalui MU untuk menjebak Dirwan Mahmud dengan modus penyalahgunaan dan kepemilikan narkotika. Kemudian HY bersama dua rekannya, DA dan SA diduga melakukan permufakatan jahat bersama RE dan MU di kediaman RE di Jl. Lingkar Barat, Bengkulu. Pertemuan tersebut membicarakan cara meletakkan barang bukti narkotika di ruang kerja Bupati Bengkulu Selatan.

Beberapa hari kemudian,RE memberikan uang tunai sebesar Rp 10 juta kepada HY melalui MU. Uang tersebut dibagi kepada HY (Rp 4 juta), DA (Rp 2 juta) dan SA (Rp 4 juta). Sesuai perintah HY, SA diminta menggunakan sebagian uang tersebut untuk membeli narkotika berupa 1 paket sabu senilai Rp 500.000 serta 4 butir ekstasi senilai Rp 1.950.000, dan menyerahkannya kepada RE melalui MU. 

SA mengaku mendapat narkotika ekstasi dari KD, salah satu oknum PNS yang bekerja di BNNP Bengkulu Selatan, sementara sabu didapatnya dari seorang bandar berinisial BO, yang kini masih dalam pengejaran petugas.

Kemudian RE memerintah RU, mantan Sekda saat RE menjabat sebagai Bupati Bengkulu Selatan, untuk meletakkan barang bukti narkotika di ruang kerja Bupati Bengkulu Selatan terpilih, Dirwan Mahmud. Setelah mendapat informasi bahwa barang bukti tersebut telah diletakkan, HY melakukan penggeledahan dan penangkapan terhadap Dirwan Mahmud.

Diduga RE merasa kecewa karena kalah persaingan dengan Dirman Mahmud dalam pemilihan Kepala Daerah Bupati Bengkulu Selatan. Dari kasus ini, BNN mengamankan beberapa barang bukti berupa satu paket narkotika jenis sabu, dua butir pil ekstasi warna biru, dua butir pil ekstasi warna merah dan bukti transfer senilai Rp. 10 juta. Guna pemeriksaan lebih lanjut, RE dan HY diamankan penyidik BNN pusat, sementara lima tersangka lainnya diamankan BNN Provinsi Bengkulu. 

Ketujuh tersangka terancam pasal 114 ayat (1) dan 112 ayat (1) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup. Penangkapan yang dilakukan terhadap oknum BNNP Bengkulu ini merupakan bukti kongkret BNN dalam menindak tegas siapapun pelaku tindak kejahatan Narkotika.

#Stopnarkoba

HUMAS BNN

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2017 in Berita

 

SIARAN PERS


img-20170222-wa002111 KG SABU, 168,5 GRAM KOKAIN, DAN 49 RIBU MILILITER 4-CMC DIMUSNAHKAN BNN

Jakarta, 22 Februari 2017

B/PR-11/II/2017/HUMAS

Badan Narkotika Nasional (BNN) memusnahkan barang bukti narkotika berupa 11.136,2 gram sabu, 168,5 gram kokain, dan 49.902 mililiter 4-klorometkatinona/4-CMC, yang pertama kalinya di tahun 2017, di Lapangan Parkir BNN, Cawang, Jakarta Timur, pada Rabu (22/2).

Barang bukti narkotika ini merupakan barang bukti kejahatan narkotika dari 4 (empat) kasus yang diungkap BNN pada Desember 2016 hingga Januari 2017. Dari empat kasus tersebut, BNN mengamankan 16 (enam belas) orang yang diduga sebagai jaringan sindikat narkotika dengan jumlah barang bukti narkotika yang disita adalah 11.148,2 gram gram sabu, 170,5 gram kokain, dan 50.000 mililiter 4-CMC. Sebelum dimusnahkan, barang bukti tersebut disisihkan sebanyak 12 gram sabu dan 98 mililiter 4-CMC untuk keperluan pemeriksaan laboratorium.

Kasus pertama diungkap BNN pada Rabu, 14 Desember 2016, sekitar pukul 15.00 WIB, di Jl. Simo Gunung Barat Tol II, Suko Manunggal, Surabaya, Jawa Timur. Pengungkapan kasus ini berawal dari adanya informasi petugas Bea dan Cukai yang menyebutkan bahwa adanya 2 (dua) paket UPS mencurigakan yang berasal dari Repto San Juan Enirada Gimna Managua Nicaragua dan masing-masing ditujukan kepada Setiawati dan Eko Wahyudi. Dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap paket tersebut, diketahui bahwa didalamnya terdapat spidol yang didalamnya berisi narkotika jenis kokain dengan berat total 170,5 gram. Petugas melakukan controlled delivery dan berhasil mengamankan EW (33) sesaat setelah menerima paket. Menurut pengakuannya, EW diperintahkan oleh VAP (30), narapidana Lapas Kelas IIA Denpasar, Kerobokan, Bali, untuk mengambil kedua paket tersebut.

Kasus kedua diungkap BNN pada Kamis, 12 Januari 2017, sekitar pukul 11.00 WIB, di depan Masjid Raya, Jl. Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara. Dari kasus ini diamankan 3 (tiga) orang tersangka, yaitu JAM (38), YAN (41), dan AL alias AS (30), setelah ketiganya melakukan serah terima sebuah tas ransel berwarna hitam yang berisi 8 (delapan) bungkus plastik kemasan teh yang didalamnya terdapat 8.097 gram sabu. Dari penangkapan ketiganya, petugas melakukan pengembangan dan mengamankan 3 (tiga) orang lainnya, yaitu SY (22), DAV (36), dan PREM (37) di sebuah hotel di kawasan Medan, Sumatera Utara. Kasus ini diduga memiliki keterkaitan dengan 4 (empat) orang warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Tanjung Gusta Medan berinisial AY (51), HAR (41), AT (37), dan AV (43), yang juga turut diperiksa oleh BNN.

Kasus ketiga diungkap BNN pada Selasa, 17 Januari 2017, sekitar pukul 15.00 WIB, di Jl. Daan Mogot Wijaya Kusuma, Grogol, Jakarta Barat. Dari kasus ini, petugas mengamankan 2 (dua) orang pria berinisial S (32) dan BT (31). S diamankan setelah mengambil paket kiriman berupa tabung water purifier yang didalamnya terdapat 1.024,2 gram sabu yang dikirim oleh BT. Menurut pengakuan S, Ia diperintahkan oleh seseorang berinisial I yang hingga kini masih dalam pengejaran petugas.

Kasus keempat diungkap BNN pada Selasa, 17 Januari 2017, sekitar pukul 18.30 WIB, di Ruko Tol Boulevard, Tangerang Selatan, Banten. Masih menggunakan modus paket kiriman, BNN bekerja sama dengan Bea dan Cukai berhasil mengungkap kasus narkotika jenis 4-klorometkatinona/4-CMC atau yang dikenal dengan sebutan _Blue Safir_, sebanyak 50.000 mililiter, yang dikirim dari Tiongkok ke Indonesia. Dari kasus ini petugas mengamankan 2 (dua) orang, yaitu EPP alias E (49) dan HE (34).

Blue Safir sebanyak 50.000 mililiter dipecah menjadi 2 (dua) paket. Paket pertama berisi 25.000 mililiter Blue Safir dikirim ke sebuah Ruko di kawasan Boulevard, BSD, Tangerang, Banten, sedangkan 25.000 mililiter Blue Safir lainnya dikirim ke sebuah Ruko yang berada di kawasan Gading, Serpong, Tangerang, Banten. Dari hasil penyidikan diketahui bahwa pemesanan dan pengiriman narkotika tersebut diatur oleh EPP alias E dan HE yang selanjutnya diamankan petugas.

Ancaman Hukuman :

Sesuai dengan Peaturan Menteri Kesehatan No. 2 tahun 2017,                                 4-Klorometkatinona/4-CMC atau Katinone masuk kedalam daftar nomor urut 104 Narkotika Golongan I.

Atas perbuatannya para tersangka terancam Pasal 114 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Narkotika No. 35 Tahun 2009 dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Dengan pemusnahan kasus barang bukti sabu, setidaknya BNN menyelamatkan lebih dari 55.681 anak bangsa dari penyalahgunaan narkotika.

#STOPnarkoba

HUMAS BNN

img-20170222-wa0022

 
Leave a comment

Posted by on February 22, 2017 in Berita

 

SIARAN PERS


11 KG SABU, 168,5 GRAM KOKAIN, DAN 49 RIBU MILILITER 4-CMC DIMUSNAHKAN BNN
Jakarta, 22 Februari 2017

B/PR-11/II/2017/HUMAS

Badan Narkotika Nasional (BNN) memusnahkan barang bukti narkotika berupa 11.136,2 gram sabu, 168,5 gram kokain, dan 49.902 mililiter 4-klorometkatinona/4-CMC, yang pertama kalinya di tahun 2017, di Lapangan Parkir BNN, Cawang, Jakarta Timur, pada Rabu (22/2).

Barang bukti narkotika ini merupakan barang bukti kejahatan narkotika dari 4 (empat) kasus yang diungkap BNN pada Desember 2016 hingga Januari 2017. Dari empat kasus tersebut, BNN mengamankan 16 (enam belas) orang yang diduga sebagai jaringan sindikat narkotika dengan jumlah barang bukti narkotika yang disita adalah 11.148,2 gram gram sabu, 170,5 gram kokain, dan 50.000 mililiter 4-CMC. Sebelum dimusnahkan, barang bukti tersebut disisihkan sebanyak 12 gram sabu dan 98 mililiter 4-CMC untuk keperluan pemeriksaan laboratorium.

Kasus pertama diungkap BNN pada Rabu, 14 Desember 2016, sekitar pukul 15.00 WIB, di Jl. Simo Gunung Barat Tol II, Suko Manunggal, Surabaya, Jawa Timur. Pengungkapan kasus ini berawal dari adanya informasi petugas Bea dan Cukai yang menyebutkan bahwa adanya 2 (dua) paket UPS mencurigakan yang berasal dari Repto San Juan Enirada Gimna Managua Nicaragua dan masing-masing ditujukan kepada Setiawati dan Eko Wahyudi. Dari pemeriksaan yang dilakukan terhadap paket tersebut, diketahui bahwa didalamnya terdapat spidol yang didalamnya berisi narkotika jenis kokain dengan berat total 170,5 gram. Petugas melakukan controlled delivery dan berhasil mengamankan EW (33) sesaat setelah menerima paket. Menurut pengakuannya, EW diperintahkan oleh VAP (30), narapidana Lapas Kelas IIA Denpasar, Kerobokan, Bali, untuk mengambil kedua paket tersebut.

Kasus kedua diungkap BNN pada Kamis, 12 Januari 2017, sekitar pukul 11.00 WIB, di depan Masjid Raya, Jl. Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara. Dari kasus ini diamankan 3 (tiga) orang tersangka, yaitu JAM (38), YAN (41), dan AL alias AS (30), setelah ketiganya melakukan serah terima sebuah tas ransel berwarna hitam yang berisi 8 (delapan) bungkus plastik kemasan teh yang didalamnya terdapat 8.097 gram sabu. Dari penangkapan ketiganya, petugas melakukan pengembangan dan mengamankan 3 (tiga) orang lainnya, yaitu SY (22), DAV (36), dan PREM (37) di sebuah hotel di kawasan Medan, Sumatera Utara. Kasus ini diduga memiliki keterkaitan dengan 4 (empat) orang warga binaan pemasyarakatan (WBP) Lapas Tanjung Gusta Medan berinisial AY (51), HAR (41), AT (37), dan AV (43), yang juga turut diperiksa oleh BNN.

Kasus ketiga diungkap BNN pada Selasa, 17 Januari 2017, sekitar pukul 15.00 WIB, di Jl. Daan Mogot Wijaya Kusuma, Grogol, Jakarta Barat. Dari kasus ini, petugas mengamankan 2 (dua) orang pria berinisial S (32) dan BT (31). S diamankan setelah mengambil paket kiriman berupa tabung water purifier yang didalamnya terdapat 1.024,2 gram sabu yang dikirim oleh BT. Menurut pengakuan S, Ia diperintahkan oleh seseorang berinisial I yang hingga kini masih dalam pengejaran petugas.

Kasus keempat diungkap BNN pada Selasa, 17 Januari 2017, sekitar pukul 18.30 WIB, di Ruko Tol Boulevard, Tangerang Selatan, Banten. Masih menggunakan modus paket kiriman, BNN bekerja sama dengan Bea dan Cukai berhasil mengungkap kasus narkotika jenis 4-klorometkatinona/4-CMC atau yang dikenal dengan sebutan _Blue Safir_, sebanyak 50.000 mililiter, yang dikirim dari Tiongkok ke Indonesia. Dari kasus ini petugas mengamankan 2 (dua) orang, yaitu EPP alias E (49) dan HE (34).

 Blue Safir sebanyak 50.000 mililiter dipecah menjadi 2 (dua) paket. Paket pertama berisi 25.000 mililiter Blue Safir dikirim ke sebuah Ruko di kawasan Boulevard, BSD, Tangerang, Banten, sedangkan 25.000 mililiter Blue Safir lainnya dikirim ke sebuah Ruko yang berada di kawasan Gading, Serpong, Tangerang, Banten. Dari hasil penyidikan diketahui bahwa pemesanan dan pengiriman narkotika tersebut diatur oleh EPP alias E dan HE yang selanjutnya diamankan petugas.

Ancaman Hukuman :

Sesuai dengan Peaturan Menteri Kesehatan No. 2 tahun 2017,                                 4-Klorometkatinona/4-CMC atau Katinone masuk kedalam daftar nomor urut 104 Narkotika Golongan I.

Atas perbuatannya para tersangka terancam Pasal 114 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Narkotika No. 35 Tahun 2009 dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup. 

Dengan pemusnahan kasus barang bukti sabu, setidaknya BNN menyelamatkan lebih dari 55.681 anak bangsa dari penyalahgunaan narkotika.

#STOPnarkoba

HUMAS BNN

 
Leave a comment

Posted by on February 22, 2017 in Berita

 

​Agus Suwarno : Ingin Habiskan Sisa Umur Kampanyekan Bahaya Narkoba


B/ADV-1/II/2017 HUMAS

Jakarta, 9 Februari 2017

Agus Suwarno (69) seorang pria asal Jepara menempuh jarak 549,5 kilometer dan menghabiskan waktu dua pekan untuk berjalan kaki dari dari desanya yaitu Dukuh Randu Sari, Jepara menuju Jakarta untuk bertemu Kepala BNN, Budi Waseso.  Kepada reporter Humas BNN, Agus menyatakan ingin menghabiskan sisa umurnya untuk mengkampanyekan bahaya narkoba. 

Di ruang tunggu, Agus menceritakan kisahnya hingga akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan panjang dari Jepara ke Jakarta, mulai tanggal 23 Januari tengah hari hingga 8 Februari tengah malam. 

Bertemu Kepala BNN Jadi Kenyataan

Raut sumringah pun tampak jelas dari wajah Agus Suwarno, saat Kepala BNN, Budi Waseso menerima kehadirannya di lobby BNN, Kamis (9/2/17). Agus pun langsung berjabat tangan erat dan setelah itu ia mendapatkan sebuah apresiasi berupa pin bertuliskan “Penggiat Anti Narkoba” yang ditempelkan langsung oleh Kepala BNN. 

Dalam pertemuan singkat ini, Agus yang pernah menjadi kuli panggul di Tanjung Priok ini menyampaikan aspirasinya yaitu tentang permintaan pembangunan kantor BNN Kabupaten di daerahya. Menurut Agus, persoalan narkoba di daerahnya sangat mengkhawatirkan. Ia menuturkan di daerahnya, ada seorang pelajar SD yang mengalami mabuk setelah menyantap pisang goreng yang ternyata telah dicampuri dengan narkoba. Ia juga merasakan betapa banyaknya pemberitaan tentang narkoba di media massa, sehingga membuat hati Agus tergerak untuk melakukan aksi nyata menangkal ancaman narkoba. 

Di hadapan pimpinan BNN ini juga Agus menyampaikan harapan keduanya yaitu  ia ingin mendapatkan ijin untuk bisa keluar masuk sekolah dalam rangka memberikan sosialisasi bahaya narkoba pada para pelajar. 

“Harapan besar tentu saya ingin agar generasi muda saat ini sama sekali tidak mengenal narkoba sehingga tidak terjerumus”, ungkap Agus di hadapan media yang meliputnya. 

Kepada Buwas, ia juga menyampaikan bahwa aksi nyata menangkal ancaman narkoba sudah ia rintis di desanya. Bersama dengan jajaran di desanya, ia telah membangun relawan pemberantas narkoba demi menciptakan kawasan kampungnya agar terbebas dari jeratan narkoba. 

Menanggapi perjuangan tersebut, Kepala BNN memberikan apresiasi yang tinggi. Jenderal bintang tiga ini mengatakan bahwa upaya penanggulangan narkoba memang harus dimulai dari sendiri dan ia menilai bahwa apa yang dilakukan oleh Agus dari Jepara ini merupakan sebuah langkah yang nyata dalam mendukung upaya penanggulangan narkoba. 

Pernah Ditawari 10 Juta Asal Kembali Ke Jepara

Usai pertemuan dengan Kepala BNN, Agus mengisahkan banyak kenangan yang ia dapatkan ketika melakukan perjalanan. Di Brebes ia mengaku dicegat oleh seseorang yang turun dari sebuah mobil berplat Jakarta. Ia ingat betul, pria misterius ini menawarkan uang sebesar Rp 10 juta asal ia  tidak melanjutkan perjalannya ke Jakarta dan diminta kembali ke Jepara. 

Namun Agus mengaku tidak tertarik dengan tekanan seperti itu dan ia tetap pada komitmennya untuk melanjutkan perjalanan hingga ke Jakarta. 

Diwawancarai Anak SMA di Bekasi

Kejadian yang ia nilai berkesan juga ia alami ketika ia menginjakkan langkah di kota Bekasi. Di sana, ia sempat dikejar oleh seorang pelajar SMA dan mengajaknya wawancara. Saat wawancara tersebut, ia ditanyakan tentang motivasi utama berjalan kali sejauh ratusan kilometer untuk bertemu dengan Kepala BNN. 

Kepada anak SMA tersebut, ia mengatakan bahwa apa yang ia lakukan adalah sebagai wujud kampanye anti narkoba dengan harapan agar apa yang ia lakukan bisa menjadi jadi inspirasi bagi anak negeri lainnya untuk melakukan hal-hal yang konkret dalam upaya mencegah dan juga memberantas narkoba di Indonesia. 

Pernah Keliling Asean Kampanyekan Bahaya Narkoba

Kesadaran akan upaya mencegah narkoba pada dasarnya sudah muncul saat dirinya berkeliling Asean pada tahun 2006 silam. Saat itu, ia membawa misi perdamaian sambil mengkampanyekan bahaya narkoba. Upaya ini juga tidak lepas dari peran BNN. Pada waktu sebelum melakukan perjalanan keliling Asean dengan mengendarai sepeda, ia mendapatkan arahan dari BNN tentang pentingnya menyampaikan pesan bahaya narkoba pada masyarakat Asean. 

Terbaring Sakit Setahun Tapi Bertekad Lanjutkan Perjuangan

Pada tahun 2016 lalu, Agus sempat mengalami masalah kesehatan yang cukup serius. Ia terkena masalah di bagian syaraf sehingga selama satu tahun tidak bisa bergerak. Saat sakit, ia sempat mengucapkan nazar, apabila ia sembuh ia akan berangkat ke Jakarta dengan berjalan kaki untuk menemui Kepala BNN. 

Rupanya doa yang ia panjatkan terkabul. Saat merasa pulih ia mulai berlatih jalan kaki setiap pagi berkilo-kilo meter jauhnya.  Dalam kondisi yang sebenarnya dilarang oleh dokter untuk berjalan kaki dengan jarak yang sangat jauh, akhirnya Agus tetap pada tekadnya, yaitu bertemu dengan Kepala BNN dan menyampaikan aspirasi penting tentang pentingnya menangkal bahaya narkoba. Kini impiannya telah jadi kenyataan. Ke depan ia berjanji untuk terus melanjutkan perjuangannya memberikan pencerahan pada masyarakat agar menjauhi narkoba.

Humas BNN

#StopNarkoba

Foto lainnya :

Saat Tiba di BNN Cawang tgl 8 Februari 2017 Pukul 23.00 WIB beliau tertidur di Masjid BNN 

Harapannya berjumpa dgn Kabag Humas BNN Akhirnya terwujud 

Bapak Agus saat diterima ibu Sinta Dame S (Direktur Peran Serta Masyarakat BNN)


 
Leave a comment

Posted by on February 9, 2017 in Berita

 
 
%d bloggers like this: